Dana Lunak PTPN VII, Stabilitas Kacang Pedas Ababil

0
63
UMKM PTPN VII
Retno UMKM PTPN VII yang bergerak dalam bidang makanan ringan yang terbantu dengan pinjaman lunak PTPN VII

PESAWARAN—Jelaga di dapur sederhana rumah Retno (44) di Desa Bagelen, Gedongtataan itu menyisakan sejarah. Perempuan subur itu berusaha menghapus lengas itu, tetapi justru menebal seiring kepul dari tungku penggorengan kacang yang bertambah. Di dapur ini, pada 2012 ia memulai usaha dari lima kilogram kacang tanah utangan.

Ditemui di rumahnya yang sekarang sudah permanen, Retno mengisahkan masa permulaannya. Sejak menjadi orang tua tunggal bagi dua anaknya, ia bingung mau mencari nafkah dari pintu yang mana. Sebab, bisa dibilang tak ada modal yang bisa diulur kecuali tenaga yang tidak terampil karena memang aktivitas kesehariannya di dapur.

Meskipun demikian, dapur bagi ibu dari Billy  Nur Alif Ababil dan Lily Nur Tursin Ababil itu adalah laboratorium. Dari prakteknya memasak, walaupun tidak ahli, ia bisa mengukur rasa asin, manis, pedas, asam, getir, juga rasa lainnya. Maka, ketika hidup sudah berhadapan dengan tembok, ia memutar pikiran mencari jalan.

“Saya nggak punya keahlian apa-apa selain di dapur. Waktu itu, karena sudah kepepet, saya lihat ada saudara panen kacang tanah. Saya utang lima kilo, terus saya bikin kacang pedes-manis. Saya bungkusi kecil-kecil, say jual titip di warung-warung. Dari situ saya mulai usaha kecil-kecilan ini,” kata wanita berjilbab ini.

Dua anaknya masih balita ketika ia menetapkan diri menjadi “tukang kacang”. Setiap kali mengolah kacang di dapur dengan segala alat masak dan bumbunya, Billy dan Lily adalah bagian dari pengganggu sekaligus penyemangat. Ada saja yang ditumpahkan atau dirusuhi yang membuat ibunya jengkel. Tetapi ketika melihat kelucuan tingkah dua buah hatinya yang butuh masa depan gemilang, sang ibu kembali bersemangat.

Semangat dengan lima kilo gram kacang pinjaman memang bukan satu rencana besar bagi Retno. Ia hanya menjalankan takdir dengan kepercayaan bahwa setiap gerak adalah pintu bagi Alloh SWT dalam membagikan rezeki kepada hamba-hambanya.

“Saya nggak punya rencana mau menjadi usaha seperti sekarang ini. Yang saya lakukan dulu, ya hanya buat-buat aja. Yang saya yakini, Alloh SWT akan memberi rezeki kepada kita kalau kita berbuat sesuatu. Dan alhamdulillah, ternyata ini menjadi jalan hidup saya,” kata perempuan kelahiran 26 Desember 1976 itu.

Perjalanan perniagaan kacang Retno dengan merek Ababil itu terus meluas seiring waktu dan kegigihan bertahan. Warung-warung di sekitar rumahnya, terutama yang dekat-dekat dengan keramaian anak-anak sudah tersaji kacang pedasnya. Dengan bungkusan kecil-kecil dalam plastik yang direnteng sedemikian rupa, kacang Retno menjadi bagian dari barang dagangan hampir semua warung tetangganya.

Merasa cukup mendapat pasar, ia mulai melirik pasar tradisional. Ia menambah jumlah bahan baku dan meminta bantuan tetangga untuk mengolah kacang mentah menjadi siap edar. Tak kurang, ia menitipkan kacang-kacang buatannya ke pasar Gedongtataan dan Pasar Wiyono.

“Waktu itu saya nekat titip ke pedagang di pasar. Pikir saya di situ kan ramai, pasti laris. Eh, ternyata di pasar itu malah nggak laku. Padahal, waktu itu kacang saya seminggu sudah nggak layak makan lagi. Akhirnya, rugi saya,” kata dia.

Gagal di persaingan pasar, Retno tidak putus asa. Ia masih yakin pasar adalah tempat terbaik untuk memasarkan produknya. Sekali lagi, wanita bersemangat ini menyerbu kembali pasar tradisional itu dengan produk kacangnya, tetapi dengan kemasan yang sedikit berbeda.

“Saya nggak putus asa. Kalau sebelumnya kemasannya plastik begitu saja, waktu itu saya ganti dengan plastik yang lebih kuat dan saya vakum biar nggak ada angin di dalam bungkusnya. Nah, dengan divakum begitu, kacang saya bisa tahan sebulan. Kalau nggak divakum, seminggu sudah mulai rusak,” kata dia.

Semakin tahun, usaha yang digeluti perempuan enerjik ini mengalami kemajuan. Pada tahun 2017, Retno memberanikan mengajukan pinjaman lunak sebagai mitra binaan PTPN VII. Setelah melalui proses survei dan penilaian usaha, perusahaan agro industri BUMN itu memberi kepercayaan. Pinjaman yang dia terima digunakan untuk penambahan modal.

Dengan modal ini, kata Retno memgisahkan dirinya bisa membeli bahan baku lebih banyak lagi. Dan produksi kacang pedesnya pun makin meningkat.

“Alhamdulillah, penjualan terus meningkat, bahkan bahkan sekarang pemasarannya sudah sampai Bandarlampung, Kota Metro, dan Kabupaten Mesuji.”

Kini, tutur Retno, dalam sehari bisa memproduksi 35 kg kacang tanah. Yang bisa dibuat kacang pedas sebanyak 300 bungkus, yang dijual Rp650 perbungkus. “Saya jualnya kan ke pedagang, jadi mereka nanti jualnya rata-rata Rp1.000,” tambah dia.

Retno mengatakan, kacang pedas Ababil yang dia produksi tidak menggunakan bahan pengawet. Komposisi bahannya kacang tanah pilihan, gula, cabe, garam, dan saos. Yang membuat awet kacang pedas ini bungkusnya divakum dengan cara manual.

Di masa pandemi corona ini, Retno mengaku ada penurunan omset cukup signifikan. Tetapi ia bersyukur masih ada rezeki untuk hidup dan menyekolahkan dua anaknya yang tahun ini mau kuliah dan lulus SMP.

Ibu yang berpenampilan sederhana iii, selain memproduksi kacang pedas, kini dibantu lima karyawan juga memproduksi daging bakso.

Bakso yang dijual ini merambah pangsa pasar menengah kebawah, sehingga harga jualnya juga tidak mahal. Daging bakso yang dibuat murni dari daging sapi, tidak dicampur dengan daging lainya. (HUMAS PTPN VII)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here